MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Berikut ini model-model pembelajaran
matematika yaitu :
a.
Model pembelajaran langsung (direct
intruction)
Pengajaran Langsung merupakan suatu
model pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center. Dalam menerapkan
model pengajaran langsung guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau
keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah.
Karena dalam pembelajaran peran guru sangat dominan, maka guru dituntut agar
dapat menjadi seorang model yang menarik bagi siswa.Pada model pembelajaran
langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran
dengan pekerjaan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta
mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Pengajaran langsung memerlukan
perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif,
pengajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan
secara seksama. Demonstrasi dan jadwal pelatihan juga harus direncanakan dan
dilaksanakan secara seksama.
Langkah-langkah pembelajaran model pengajaran langsung pada
dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umum. Meliputi tahapan-tahapan
sebagai berikut:
1. Menyiapkan dan memotivasi siswa,
Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta
memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu.
2. Menyampaikan tujuan, Siswa perlu
mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran
tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan
setelah selesai berperan serta dalam pelajaran.Presentasi dan Demonstrasi, Fase
ini merupakan fase kedua pengajaran langsung. Guru melaksanakan presentasi atau
demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci keberhasilan kegiatan
demonstrasi ialah tingkat kejelasan demostrasi informasi yang dilakukan dan
mengikuti pola-pola demonstrasi yang efektif.
3. Mencapai kejelasan, Hasil-hasil
penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk memberikan
informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif
terhadap proses belajar mengajar.
4. Melakukan demonstrasi, Pengajaran
langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari
(hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain. Belajar dengan meniru
tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, menghindari siswa dari belajar
melalui “trial and error.”
5. Mencapai pemahaman dan penguasaan,
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan
sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap
tahap demonstrasi ini berarti, bahwa jika guru perlu berupaya agar segala
sesuatu yang didemonstrasikan juga benar.
6. Berlatih, Agar dapat
mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif, dan
memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang
didemonstrasikan.
7. Memberikan latihan Terbimbing, Salah
satu tahap penting dalam pengajaran langsung ialah cara guru mempersiapkan dan
melaksanakan “pelatihan terbimbing.” Keterlibatan siswa secara aktif dalam
pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan
lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang
baru.
b.
Model pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting pembelajaran,
yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan
keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000:7).Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas
dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk
memahami konsep yang difasilitasi oleh guru.
Model Pembelajaran Kooperatif, dibatasi sebagai lingkungan
belajardimana siswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang kemampuannya
berbeda-beda untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik. Pembelajaran
kooperatif dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menekankan pada
keaktifan siswa dalam kelompok kecil, mempelajari materi pelajaran dan
mengerjakan tugas.
Model pembelajaran ini memanfaatkan
bantuan siswa lain untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran,
karena terkadang siswa lebih paham akan hal yang disampaikan temannya daripada
guru serta bahasa yang digunakan siswa kadang lebih mudah dipahami oleh siswa
lainnya. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah memberikan kesempatan
kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dalam
kegiatan belajar. Kelompok siswa tersebut harus saling bekerja sama dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif
lebih dari sekedar bekerja dalam kelompok.(Slavin, 2008: 113).Langkah-langkah
penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
1. Guru menyampaikan materi
pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai.
2. Guru memberikan tes/kuis kepada
setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
3. Guru membentuk beberapa kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda
(tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras,
budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender.
4. Bahan materi yang telah dipersiapkan
didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran
kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi.
5. Guru memfasilitasi siswa dalam
membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi
pembelajaran yang telah dipelajari.
6. Guru memberikan tes/kuis kepada
setiap siswa secara individual.
7. Guru memberi penghargaan pada
kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari
skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
c.
Model pembelajaran bertukar pasangan
Model pembelajaran bertukar pasangan
termasuk pembelajaran dengan tingkat mobilitas cukup tinggi, di mana siswa akan
bertukar pasangan dengan pasangan lainnya dan nantinya harus kembali ke
pasangan semula/pertamanya. Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Siswa dibentuk berkelompok secara
berpasangan/2 orang (guru bisa menunjuk pasangannya atau siswa memilih sendiri
pasangannya).
2. Guru memberikan tugas dan siswa
mengerjakan tugas dengan pasangannya.
3. Setelah selesai setiap pasangan
bergabung dengan satu pasangan dari kempok yang lain.
4. Kedua pasangan tersebut bertukar
pasangan, kemudian pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mencari
kepastian jawaban mereka.
5. Temuan baru yang didapat dari
pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
d.
Model pembelajaran problem based
learning
Pembelajaran berbasis masalah
merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual
sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan
pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world).
Pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk
“belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi
dari permasalahan dunia nyata.Masalah yang diberikan ini digunakan untuk
mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.Masalah
diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau
materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Model pembelajaran ini bertujuan
merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata
dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan
dipelajarinya melalui langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
1. Mengorientasi peserta didik pada
masalah. Tahap ini untuk memfokuskan peserta didik mengamati masalah yang
menjadi objek pembelajaran.
2. Mengorganisasikan kegiatan
pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran salah satu kegiatan agar peserta
didik menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap malasalah
kajian.
3. Membimbing penyelidikan mandiri dan
kelompok. Pada tahap ini peserta didik melakukan percobaan (mencoba) untuk
memperoleh data dalam rangka menjawab atau menyelesaikan masalah yang dikaji.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil
karya. Peserta didik mengasosiasi data yang ditemukan dari percobaan dengan
berbagai data lain dari berbagai sumber.
5. Analisis dan evaluasi proses
pemecahan masalah. Setelah peserta didik mendapat jawaban terhadap masalah yang
ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi.
e.
Model pembelajaran inkuiri
Pembelajaran berdasarkan inquiry
merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa
mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa
berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan
penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan
pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data,
menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau
setiap kontribusi dari kegiatan.
Secara umum proses pembelajaran SPI dapat
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Orientasi, pada tahap ini guru
melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif.
Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
2. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil
belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
3. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan
yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini
dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari
langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
4. Menjelaskan pentingnya topik dan
kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar
siswa.
5. Merumuskan masalah, merupakan
langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan
yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki
itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong
untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat
penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut
siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
6. Merumuskan hipotesis, hipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban
sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap
anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa
untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai
perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
7. Mengumpulkan data, adalah aktifitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang
sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
8. Menguji hipotesis, adalah menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
9. Merumuskan kesimpulan, adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada
siswa data mana yang relevan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar