Matematika Sebagai Bahasa dan Matematika Sebagai Raja Sekaligus Pelayan
Di manakah letak konsep-konsep matematika, misalnya letak bilangan 1 ?
Banyak para pakar matematika, misalnya para pakar Teori Model (lihat
model matematika) yang juga mendalami filsafat di balik konsep-konsep
matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara
universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia.
Jadi, yang dipelajari di dalam matematika adalah berbagai lambang dan
ungkapan untuk mengomunikasikannya. Misalnya orang Jawa secara lisan
memberi lambang bilangan 3 dengan mengatakan Telu sedangkan dalam bahasa
Indonesia, bilangan tersebut dilambangkan melalui ucapan Tiga. Inilah
sebabnya, banyak pakar mengkelompokkan matematika ke dalam kelompok
bahasa, atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi, bukan
ilmu pengetahuan.
Dalam pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak
yang didefinisikan secara aksiomatis dengan menggunakan logika simbolik
dan notasi matematika; ada pula pandangan lain, misalnya yang dibahas
dalam filsafat matematika.
Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal
dari ilmu pengetahuan alam, dan sangat umum di fisika, tetapi
matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal
dalam matematika itu sendiri, misalnya, untuk menggeneralisasikan teori
bagi beberapa sub-bidang, atau alat bantu untuk perhitungan biasa.
Akhirnya, banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka
untuk sebab estetis saja, melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni
daripada sebagai ilmu praktis atau terapan.
Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari
berbagai gejala fisika yang kompleks, khususnya berbagai gejala alam
yang teramati, agar pola struktur, perubahan, ruang dan sifat-sifat
gejala bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yang
sistematis dan penuh dengan berbagai perjanjian, lambang, dan notasi.
Hasil perumusan yang menggambarkan perilaku atau proses gejala fisika
tersebut biasa disebut model matematika dari gejala.
Ada pendapat terkenal yang memandang matematika sebagai pelayan dan
sekaligus raja dari ilmu-ilmu lain. Sebagai pelayan, matematika adalah
ilmu yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan lain. Sejak
masa sebelum masehi, misalnya zaman Mesir kuno, cabang tertua dan
termudah dari matematika (aritmetika) sudah digunakan untuk membuat
piramida, digunakan untuk menentukan waktu turun hujan, dan sebagainya.
Sebagai raja, perkembangan matematika tak tergantung pada ilmu-ilmu
lain. Banyak cabang matematika yang dulu biasa disebut matematika murni,
dikembangkan oleh beberapa matematikawan yang mencintai dan belajar
matematika hanya sebagai kegemaran tanpa memedulikan fungsi dan
manfaatnya untuk ilmu-ilmu lain. Dengan perkembangan teknologi, banyak
cabang-cabang matematika murni yang ternyata di kemudian hari bisa
diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar